PALANGKA RAYA – Menghadapi fenomena El Nino yang sangat kuat pada Agustus–September 2026, Polri memperkuat strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mengedepankan pencegahan dan deteksi dini.
Tak hanya mengandalkan teknologi dan peralatan, Polri turut mengerahkan sumber daya manusia untuk turun langsung memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Pendekatan humanis dinilai menjadi kunci untuk mencegah pembakaran lahan yang masih sering dilakukan warga.
Di Kalimantan Tengah, sebanyak 59 peserta didik (Serdik) yang terdiri dari 40 Sespimmen, 12 Sespimti, dan 7 SPPK dilibatkan untuk mendukung edukasi, penyuluhan, pendampingan serta memberikan masukan berdasarkan kondisi di lapangan. Mereka diterjunkan langsung ke wilayah-wilayah rawan karhutla untuk berdialog dengan masyarakat, kelompok tani, dan perangkat desa.
Penguatan sumber daya manusia juga dilakukan secara lebih luas. Sebanyak 322 personel, terdiri dari 64 Sespimti, 207 Sespimmen, 29 SPPK dan 22 pendamping, ditugaskan untuk memperkuat edukasi, penyuluhan dan pencegahan karhutla di enam Polda yang wilayahnya rawan karhutla, yakni di Sumatera dan Kalimantan.
Polri menegaskan, kelompok 198 personel peserta didik merupakan penugasan berbeda dan tidak digabungkan dengan 322 personel maupun 59 Serdik yang ada di Kalteng. Pembagian tugas ini dilakukan agar penanganan lebih terfokus dan merata.
Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, yang turun langsung meninjau penanganan karhutla di Kalteng, menyampaikan bahwa strategi Polri saat ini bergeser dari penindakan ke pencegahan. Edukasi menjadi garda terdepan.
Fenomena El Nino tahun ini sangat kuat, potensi karhutla meningkat tajam. Maka pencegahan harus menjadi prioritas. Kita tidak bisa hanya memadamkan api, tapi harus mencegah api itu muncul. Peran Serdik adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya karhutla dan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar.
Selain edukasi, Polri juga menyalurkan bantuan sarana pencegahan karhutla dan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak, sebagai wujud kehadiran negara di tengah ancaman bencana asap.
Dengan sinergi antara teknologi, personel, dan edukasi masyarakat, Polri optimistis penanganan karhutla pada puncak El Nino 2026 dapat lebih terkendali dan tidak menimbulkan dampak kabut asap lintas batas yang lebih luas.
