Wakapolri Pimpin Rakor: 71 Ribu Personel, Drone, dan Command Center Dikerahkan Antisipasi El Nino
JAKARTA – Polri memperkuat kesiapan personel, sarana, dan prasarana untuk mengantisipasi meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan / karhutla selama puncak musim kemarau Juli–September 2026. Potensi peningkatan kebakaran diprediksi terjadi akibat pengaruh fenomena El Nino.
Langkah strategis ini dibahas dalam Rapat Koordinasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla yang dipimpin langsung oleh Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H.,M.Hum.,M.Si., M.M. bersama kementerian dan lembaga terkait.
71 Ribu Personel Disiagakan dengan Sistem Rayonisasi
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, Polri telah mengerahkan kekuatan besar di lapangan. Data hingga saat ini menunjukkan:
- 151 apel kesiapsiagaan telah digelar
- 29 rapat siaga dilaksanakan di tingkat kewilayahan
- 180 kegiatan kesiapan lapangan dilakukan
- 2.850 kegiatan sosialisasi pencegahan kepada masyarakat
- 168.500 patroli terpadu bersama TNI, pemerintah daerah, Manggala Agni, dan masyarakat
Untuk kekuatan personel, Polri menyiagakan 48.368 personel Sabhara dan 23.360 personel Brimob. Total lebih dari 71 ribu personel ini didukung dengan sistem rayonisasi agar mobilisasi ke titik api dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Manfaatkan Teknologi untuk Pantau Titik Panas Real Time
Selain kekuatan personel, Polri juga mengoptimalkan pemanfaatan teknologi. Drone, CCTV, dan command center dikerahkan untuk memantau wilayah rawan karhutla secara real time.
Sistem pemantauan ini telah terintegrasi dengan Kementerian Kehutanan, BNPB, dan Basarnas sehingga pertukaran data titik panas / hotspot dapat dilakukan secara cepat dan akurat.
Wakapolri menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan Polri bersifat preventif dan responsif. Sosialisasi masif kepada masyarakat menjadi kunci utama untuk mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar. Sementara patroli terpadu dan kesiagaan personel bertujuan agar penanganan dapat dilakukan sejak dini sebelum api meluas.
Dengan kesiapan ini, Polri berharap dapat menekan angka kejadian karhutla selama puncak musim kemarau 2026 dan meminimalkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, serta perekonomian.
