Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Membina Iman di Balik Jeruji: Menengok Program Pesantren di Lapas Kelas IIA Muara

Jumat, 27 Maret 2026 | Maret 27, 2026 WIB Last Updated 2026-03-27T13:43:31Z


 PADANG – Dinding tinggi dan kawat berduri biasanya identik dengan pembatasan kebebasan. Namun, di Lapas Kelas IIA Muara Padang, suasana tersebut kini bertransformasi menjadi ruang kontemplasi. Melalui pembentukan Pesantren di dalam Lapas, para warga binaan diberikan kesempatan kedua untuk menata kembali spiritualitas mereka sebelum kembali ke masyarakat.


Lebih dari Sekadar Pembinaan Rutin

Program pesantren ini bukan sekadar kegiatan mengaji mingguan. Ini adalah kurikulum terstruktur yang dirancang untuk mengubah pola pikir dan perilaku narapidana. Pembentukan pesantren ini didasari oleh keyakinan bahwa rehabilitasi mental yang paling efektif bermuara pada pendekatan agama.

Beberapa pilar utama dalam pesantren Lapas Muara meliputi:

Tahfidz Al-Qur’an: Fokus pada hafalan surat-surat pendek dan perbaikan bacaan (Tahsin).


Kajian Fiqih dan Akhlak: Memberikan pemahaman dasar mengenai tata cara ibadah dan etika bermasyarakat.

Pembiasaan Ibadah Berjamaah: Mewajibkan salat lima waktu berjamaah sebagai sarana kedisiplinan.


Kolaborasi dengan Stakeholder Terkait

Keberhasilan pesantren ini tidak lepas dari sinergi antara pihak Lapas dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) setempat dan organisasi keagamaan. Para pengajar atau ustadz didatangkan langsung dari luar untuk memberikan materi yang segar dan kredibel.


"Kami ingin saat mereka bebas nanti, mereka tidak lagi dipandang sebagai mantan narapidana, melainkan sebagai pribadi yang berakhlak mulia, bahkan kalau bisa menjadi imam di lingkungan mereka sendiri," salah satu pejabat Lapas.


Dampak Psikologis bagi Warga Binaan

Bagi banyak warga binaan, keberadaan pesantren ini menjadi "oase" di tengah penatnya masa hukuman. Secara psikologis, aktivitas keagamaan yang intens membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan, serta meminimalisir potensi konflik antarpenghuni lapas.


Dengan adanya ijazah atau sertifikat kelulusan dari pesantren lapas, warga binaan memiliki bukti nyata bahwa mereka telah menjalani proses perubahan diri yang serius.

×
Berita Terbaru Update